TURGO – PURWOBINANGUN : Tempat Menggembleng Raga

August 15, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Padukuhan Turgo secara administratif bagian dari Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. Luas wilayahnya sekitar 200 hektar. Sebelah barat berbatasan dengan Padukuhan Ngandong, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi; di sebelah timur berbatasan dengan Padukuhan Kaliurang, Kalurahan Hargobinangun; di sebelah utara berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Padukuhan Ngepring, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem.

Bukit Turgo

Entah sejak kapan pemberian nama Turgo dilekatkan pada sebuah bukit yang terletak sekira enam kilometer barat daya dari puncak Gunung Merapi. Apakah itu merupakan akronim dari kata-kata Jawa yang memiliki kearifannya, ataukah sebagai monumental terhadap peristiwa yang dilakukan oleh seorang tokoh legendaris Syekh Jumadil Kubra?

Pada puncak Bukit Turgo terdapat petilasan tempat munajat (berdoa) Syekh Jumadil Kubra kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang Jawa menyebutnya papan  kanggo  genturake  raga  (turga) artinya menggembleng raga, sehingga tempat itu terkenal dengan nama Turga. Boleh jadi, inilah sebagai asal-usul nama Turgo.

Siapakah Syekh Jumadil Kubra? Ia salah satu putra Prabu Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) raja Majapahit terakhir. Nama aslinya adalah Pangeran Bracakngelo. Ketika Majapahit diserang Prabu Girindrawardhana (raja Kediri), putra Prabu Brawijaya V yang berjumlah 111 orang itu, bubar ke segala arah, menyelamatkan diri.

Pangeran Bracakngelo dan Pangeran Jaka Dolog melarikan diri ke arah barat. Bracakngelo pertama kali menetap di Dusun Karanglo, sehingga dikenal dengan nama Ki Ageng Karanglo.

Setelah cukup lama menetap di Dusun Karanglo saat ini masuk wilayah Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, keduanya kemudian pindah ke utara, di bukit kecil di kaki Gunung Merapi. Di tempat inilah kemudian dikenal dengan sebutan Ki Ageng Turga atau Syekh Jumadil Kubra. Ia lebih memilih tempat pegunungan daripada pantai, karena selain hawanya yang sejuk, juga di pegunungan ini banyak sekali tanaman obat. Sehingga, hidupnya bisa berguna bagi orang lain. Ia bisa mengobati orang lain dengan bantuan alam yang tersedia di sekelilingnya.

Pemilihan lokasi Turgo sebagai tempat yang memiliki jenis tumbuhan berkhasiat obat memang dapat dibenarkan secara ilmiah. Dari hasil penelitian para ahli tanaman obat yang disusun oleh Zidni Amaliyatul  Hidayah,  dkk.  (2022)  dalam  buku Tumbuhan Etnomedisin di Kawasan Turgo, ternyata di lingkungan Turgo saat ini tercatat tidak kurang dari 104 spesies tumbuhan obat yang terbagi ke dalam 50 famili yang berbeda.

Keanekaragaman tumbuhan bisa dimanfaatkan masyarakat Turgo. Di antaranya, dimanfaatkan untuk membuat minuman tradisional khas Turgo yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Minuman tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur, dikonsumsi masyarakat dan diproduksi menggunakan bahan-bahan alami, seperti dedaunan, rempah-rempah, buah-buahan atau bunga-bunga tertentu.

Bukit Turgo lebih dikenal sebagai Bibi dari Gunung Merapi atau Merapi Purba yang merupakan kawasan hutan. Diperkirakan mulai dihuni secara tetap oleh penduduk pada akhir abad ke-18. Mereka yang mula-mula menetap adalah Cakrapada bersama dua orang lainnya. Entah itu saudara atau temannya, tidak diketahui secara pasti. Namun, jika kita lacak hingga saat ini, dari dua orang yang tinggal bersama dengan Cakrapada, hanya dua alur keturunan atau trah yang ada di wilayah Turgo, yaitu Cakrapada dan Ranajaya.

Keduanya memiliki petilasan berupa makam Cakrapada yang selanjutnya diakui secara bulat oleh masyarakat sebagai cikal bakal warga Turgo dan diabadikan sebagai tempat pemakaman umum (TPU) “Cakrapadan”. Sedangkan makam Ranajayan, tetap sebagai makam dari keturunan Ranajaya.

Diperkirakan masa Cakrapada tinggal di kawasan Bukit Turgo, sezaman atau bersamaan dengan Malangyuda yang berada di wilayah Kaliurang, yang konon juga memiliki petilasan. Sedang di wilayah timur Merapi, tepatnya di Pelem, Cangkringan, bernama Korijaya; yang akhir-akhir ini lebih dikenal sebagai kediaman Mbah Marijan.

Berikut ini gambaran garis keturunan Cakrapada; Cakrapada memiliki tiga anak, yaitu Caikrama, Mertaikrama, dan Partaikrama. Selanjutnya, dalam penulisan ini yang terlacak adalah dari keturunan putra pertama Cakrapada, yaitu Caikrama. Dari Caikrama mempunyai anak bernama Mulyadimeja. Kemudian Mulyadimeja mempunyai anak bernama Sutirja.

Selanjutnya, Sutirja yang merupakan generasi keempat warga Turgo, memiliki keturunan lima anak. Mereka adalah Suwaji yang tinggal di Turgo, Sri Sutiningsih juga tinggal di Turgo, Tri Suti Astuti berdomisili di Bekasi, Teguh Sutrisno yang tinggal di Turgo, dan Murtiningsih yang menetap di Tangerang.

Menurut perkiraan dari keturunan Cakrapada, Suwaji, hingga saat ini perkembangan warga Turgo 50% sebagai keturunan Cakrapada. Cakrapada diyakini dan disepakati sebagai moyang/cikal bakal warga Turgo. Maka, makam Kyai Cakrapada dan Nyai Cakrapada ditetapkan resmi sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padukuhan Turgo dengan sebutan “Makam Cakrapadan”. TPU ini merupakan tempat pemakaman umum bagi seluruh warga Padukuhan Turgo yang meliputi Turgo, Turgo Tegal, Tritis, dan Relokasi Sudimoro.

Relokasi Sudimoro merupakan pemukiman warga Turgo yang terdampak dari peristiwa erupsi gunung Merapi tahun 1994, yang banyak menelan korban. Meski secara geografis terpisah jauh, sekitar enam kilometer dari Turgo, namun secara administrasi dan kehidupan sosial tetap merupakan satu kesatuan dari Padukuhan Turgo. Hal ini terbukti, hingga saat ini keguyuban dalam sosial masyarakat masih tetap terjalin secara baik. Ketika di antara warga punya hajat, sakit atau berbagai bentuk kegiatan kemasya- rakatan tetap saling bantu-membantu. Bahkan ke- tika warga ada yang meninggal juga dimakamkan di TPU Cakrapadan.

Erupsi Merapi 1994 juga membawa perubahan besar bagi warga Turgo. Jika sebelumnya memiliki keyakinan Turgo tidak akan pernah terkena bencana Merapi karena Turgo sebagai bibi dari Merapi tak akan tersakiti. Peristiwa itu telah membuka kesadar- an masyarakat jika ada tanda-tanda Merapi akan erupsi dengan mudah warga bergegas untuk meng- ungsi.

Bukti Turgo dijadikan destinasi wisata religi, karena terdapat Maqom (petilasan) Syekh Jumadil Kubro. Kawasan tersebut menjadi daya tarik bagi sebagian kaum muslim yang memiliki tradisi ziarah religi. Sebagian dari mereka ada yang mengeramatkan tempat tersebut sehingga dibangun menyerupai makam.

Terkait dengan penamaan “makam” dan “maqom”, sebagian besar warga Turgo lebih meyakini sebagai maqom, yang artinya sebagai tempat atau kedudukan untuk bermunajat. Bukan makam, yang merupakan tempat menguburkan jenazah. Namun, ada juga sebagian yang meyakini sebagai makam.

Penulis            : Nyadi Kasmorejo
Tenaga Ahli     : R. Toto Sugiharto