Ngelmu Titen

September 3, 2025

DAPOBUD-OPK: Pengetahuan Tradisional,

Ngelmu titen merupakan ilmu yang berdasarkan pengamatan fenomena-fenomena alam yang dikaitkan dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari  Ngelmu titen biasanya diterapkan untuk melihat adanya tanda-tanda bencana. Ilmu ini berkembang di Jawa dan hingga saat ini masih ada daerah yang mengimplementasikan ngelmu titen salah satunya yakni di desa Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Turgo terletak di lereng Gunung Merapi sehingga masyarakat desa Turgo masih menggunakan ngelmu titen untuk melihat adanya tanda bencana alam dari Gunung Merapi.

Sejarah Letusan Gunung Merapi di Turgo

Keberadaan Dusun Turgo memang tidak terpisahkan dengan sejarah gunung Merapi. Dusun ini merupakan kelompok pemukiman yang berada di balik Bukit Turgo, yang dalam sejarah geologi merupakan bekas dari aktivitas vulkanis pada periode awal pertumbuhan gunung Merapi moderen. Sisa aktivitas vulkanis yang memanjang di sisi selatan dan barat daya ini membentuk perbukitan solid di sisi selatan yang kini dikenal sebagai bukit Plawangan dan bukit Turgo. Dua bukit ini diyakini sebagai ‘pelindung’ bagi wilayah-wilayah di sisi selatan dan barat daya dari erupsi gunung merapi. Keyakinan itu sangat kuat bagi masyarakat Turgo dan Kaliurang. Mereka meyakini bahwa Bukit Turgo adalah ‘bibi’ gunung Merapi (Triyoga, 1991), oleh karena itu Merapi tidak akan membuang isinya ke arah bibinya ketika bebersih. Artinya wilayah pemukiman di belakang bukit tersebut akan aman.

Gunung Merapi merupakan gunung api aktif yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (Sleman) dan Jawa Tengah (Magelang dan Boyolali). Sebagai gunung api aktif, Gunung Merapi sering terjadi erupsi. Pada tahun 1990an, Gunung Merapi sudah erupsi sebanyak 18 kali (Azanella dkk, 2018). Akan tetapi mitos tersebut mentah pada tahun 1994, ketika itu erupsi mengarah ke barat daya dan luncuran awan panas meluluhlantakkan dusun Turgo. Tanggal 22 November 1994 sekira pukul 10 pagi, gunung merapi erupsi dan mengeluarkan awan panas sejauh 6 km. Tercatat dalam bencana tersebut sebanyak 58 orang meninggal dunia, 22 luka berat, dan sekitar 6000 orang mengungsi. Banyaknya orang yang meninggal di tempat ini konon disebabkan karena sapuan awan panas itu bersamaan dengan persiapan acara pernikahan yang akan dilaksanakan hari berikutnya.

“Saat itu rak ngepasi mau ada acara pernikahan. Lha saudara-saudara itu kan banyak yang rewang (membantu). Bahkan besannya juga sudah ada yang datang. Ya gitu, awan di pucuk itu berubah jadi hitam, yang lihat pertama kali itu kan yang lagi di kerja di sungai bikin jembatan. Mereka pada ngasih tahu kalo ada yang tidak beres. mereka lari sambil memberitahu. Lha yang lagi rewang ini, begitu melihat ke luar melihat ada asap hitam kayak kembang kol gitu ya lari menyelamatkan diri, tetapi ada juga yang tidak lari. yang jadi kurban itu sebagian besar yang tidak lari itu. Konon mbah Arjo Paijo itu juga sudah dipripeni kalo mau lewat, sumingkiro dhisik. tetapi tidak sempat juga ngasih tahu warga. Begitu lah. 50 orang lebih orang meninggal. Tapi ada juga kok keluarga yang punya gawe itu tidak jadi kurban, karena mereka lagi dikon blanja ke pakem (pak Waji).”

Peristiwa itu tidak pelak memecahkan mitos bukit Turgo sebagai pelindung yang tidak akan terkena erupsi Merapi. Menyadari risiko itu, BPBD Provinsi dan kabupaten Sleman membentuk satgas kesiagaan bencana sebagai langkah mitigasi. Di ujung dusun Tritis dibangun sebuah menara pengawas yang dilengkapi perlengkapan canggih untuk mendeteksi secara visual perubahan morfologi puncak merapi dan juga seismograf untuk merekam fenomena kegempaan terkait aktivitas merapi. Hasil pengamatan dari pos tersebut tersambung dengan jaringan satgas BPBD di sekitar merapi untuk menentukan langkah-langkah mitigasi juga aktivitas merapi meningkat. Meskipun demikian, masyarakat dusun Turgo pun masih merasa perlu melaksanakan rangkaian ritual untuk memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh warganya.

“ini namanya menyempurnakan ikhtiar, yang teknis dipakai, yang religius supranatural juga dipakai. Peralatan teknis itu sudah lengkap sekali untuk merekam semua hal yang terjadi di puncak. Ada kamera yang memantau perubahan puncak, menggembungnya seberapa, kecepatan perubahannya seberapa itu sudah bisa diketahui, per menit. Juga guguran ke arah mana, seberapa jauh, seberapa sering. Itu ada. bahkan cuaca di puncak di atas itu berubah seperti apa itu sudah ada. akan tetapi kan kita juga harus menghormati keyakinan masyarakat (Musdi).”

Itulah mengapa pada setiap bulan Suro dan Sapar masyarakat mengadakan ritual untuk memohon keselamatan dan kemakmuran di beberapa mata-air yang ada di lereng Merapi, dan empat penjuru desa. Untuk ritual yang bulan suro biasanya lebih besar, sedangkan pada bulan sapar lebih kecil dan dilaksanakan secara lokal dengan menaruh sesaji di empat sisi dusun (patjupat).

Kajian

Pada dasarnya ngelmu titen itu adalah semacam sistem pengetahuan lokal yang dibangun atas pengenalan atas tanda-tanda alam. Setiap perubahan yang terjadi di alam dihubungkan dengan kejadian-kejadian khusus yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Meskipun demikian tidak semua hal itu menjadi koleksi pengetahuan yang disebut dengan ngelmu titen tersebut. Pada intinya ngelmu titen itu adalah pembacaan atas fenomena alam yang tidak biasanya terjadi, kemudian fenomena tersebut diikuti dengan kejadian lain yang mengusik kehidupan masyarakat. Kalau hal itu hanya terjadi sekali saja, itu tidak dapat dijadikan patokan ngelmu titen. Namun kejadian khusus yang sekali itu tetap menancap dalam memori masyarakat, yang setiap saat dapat di recall ketika kembali dengan tanda yang sama atau serupa.

Keterulangan menjadi kata kunci dalam proses pembentukan ngelmu titen. Rangkaian kejadian khusus yang terjadi secara berulang dalam sejarah masyarakat yang terkumpul dalam memori inilah yang kemudian menjadi ngelmu titen. Keterulangan ini tidak harus selalu terjadi dalam waktu dekat, akan tetapi melintas generasi. Cerita-cerita tentang kejadian khusus pada masa lalu yang mungkin hanya dialami sekali seumur hidup oleh aktor, akan menjadi pengetahuan bersama ketika diceritakan berulang kepada generasi-generasi di bawahnya. Cerita-cerita antargenerasi yang diceritakan berulang di pos ronda atau di pertemuan-pertemuan informal masyarakat menjadi referensi bagi generasi berikutnya ketika berhadapan dengan situasi serupa, sehingga warisan pengetahuan tersebut dapat menjadi semacam early warning bagi masyarakat ketika berhadapan dengan kemungkinan terjadinya bencana alam.

Oleh karena itu, kenaikan status gunung Merapi yang diumumkan oleh PVMBG  tidak selalu menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi masyarakat Turgo, Purwobinangun, yang tinggal dan berbatasan langsung dengan sisi barat daya gunung Merapi. Bagi mereka, naik turunnya keaktifan gunung Merapi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Intensitas kenaikan aktivitas Merapi tidak membuat penduduk yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III cepat panik dan mengungsi. Apalagi kini sudah ada tim khusus pemantau Merapi yang dibentuk BPBD DIY yang selalu memantau perkembangan puncak Merapi maupun dengan seismograf yang tersambung ke dalam jaringan komunikasi HT. Meskipun demikian, pentingnya ngelmu titen ini masih dianggap penting sebagai referensi kultural atas pembacaan teknis aktivitas gunung Merapi.

Menurut pak Musdi, ‘ngelmu titen niku sebenarnya dasarnya adalah pengenalan visual atas perubahan-perubahan alam yang terjadi, misalnya perubahan bentuk puncak Merapi. Kan itu ada  lava itu kan naik, mau keluar, membentuk kubah di puncak. Itu bisa diamati’. Hal serupa juga disampaikan oleh narasumber yang lain, pak Waji, ‘gunung api aktif itu kan wonten dorongan terus menerus lava dari perut bumi, naik, mau keluar, nyondhol lava yang ada di atas. Itulah yang menyebabkan ada guguran batu dari atas… di atas sana itu ada alatnya untuk melihat bagian mana yang menggembung… kalau ada bunyi seperti ini (katanya sambil memperdengarkan radio Htnya), itu artinya ada batu yang ngglundhung. Itu biasa saja. Gunungnya kan memang aktif’ Akan tetapi hal itu tidak selalu dirasakan perlu untuk ditanggapi secara berlebihan, karena kejadian itu tidak berdampak pada kehidupan mereka.

“… ha nek asap sing medal king ndhuwur nika warnine putih, lha mbok okeh, utawi sering, itu tidak membahayakan. Dan kita tidak perlu kawatir. Ada gemuruh, sering keluar asap, itu biasa saja, asal warnanya masih putih, lha kalau berubah warna… itu baru harus mulai berhati-hati’ (pak Musdi)”

“nek taksih putih mawon mboten napa-napa mas, lha nek berubah dados coklat, itu baru perlu waspada. Tanda kalau mau terjadi letusan niku nggih asapnya dados coklat. Lha nek berubah jadi cemeng, hitam, itu artinya sudah mau erupsi’ Pak Waji.”

Perubahan morfologi puncak yang semakin menggembung karena desakan lava dari bawah juga sering menyebabkan adanya longsoran kubah lava yang ditandai dengan batu-batu besar yang menggelinding ke lereng gunung. Hal ini menjadi penanda awal tentang arah ‘jalan’nya lava, yang semuanya mengarah pada hulu sungai yang ada di Merapi. Berdasarkan pengamatan itu mereka menjadi mengetahui arah letusan. Selain arah letusan, longsoran batu-batu besar itu juga menjadi penanda waktu semakin mendekatnya erupsi.

“ha nek watu ngglundhung itu kan ya biasa mas, hampir tiap jam itu pasti ada yang ngglundhung dari puncak,…nah seperti ini (pak Musdi mengajak kami menyimak suara seismograf yang disiarkan dalam jaringan pemantau merapi di rumahnya)… ini kan hanya sebentar. Itu artinya batu ngglundhungnya tidak jauh. Semakin lama bunyinya itu semakin jauh luncurannya. Apalagi kalau luncurannya jauh, dan semakin sering, nah itu’ (pak Musdi)” 

Selain tanda-tanda visual tentang perubahan morfologi puncak, masyarakat Turgo juga memiliki pengetahuan tanda lain yang menjadi indikator awal akan terjadinya erupsi. Tanda-tanda alam itu ditafsirkan dari perubahan dari ritme alam yang tidak biasa, misalnya suhu dan perilaku hewan-hewan yang tidak biasa.

“misalnya itu kalau suhunya itu panas, sumuk banget, siang dalu panas terus, nah itu juga tanda. Kalau siangnya panas banget, dalu tidak panas, itu berarti bukan. Kalau mau erupsi itu panasnya itu ungkep gitu. Siang malam panas terus. Itu tanda (pak Waji).”

“kalau pepohonan yang alum, mengering, itu tidak lagi dapat dijadikan patokan. Karena kan bisa juga keringnya itu karena kemarau.. kalau suhu panas itu juga tidak selalu dapat dijadikan patokan, karena sekarang ini kan cenderung panas kalo musim kemarau (pak Musdi).”

Perubahan perilaku alam dalam pandangan informan kami membuat mereka menjadi lebih berhati-hati dalam menafsirkan gejala alam. Musim kemarau yang panjang membuat salah satu ‘variabel’ ngelmu titen itu perlu dicek silang lagi.

“turunnya hewan-hewan yang ada di lereng Merapi, juga tidak selalu dapat dijadikan patokan. Sekarang ini rak yang banyak turun itu kethek (kera ekor panjang), lha rak bisa to di atas sana kurang pangan atau gimana lalu mereka pada turun rame-rame cari makan ke kebun-kebun warga. Wah, apa-apa dicabuti, dimakan je itu. Habis itu semua (tanaman) yang di tegalan, baru pada muncul trubus gitu dah dicabuti (pak Musdi).”

“intinya itu yang tidak biasa mas. Kewan-kewan sing tidak biasanya terlihat eh kok ini pada turun ke sekitar kampung itu tanda-tanda yang sing harus diwaspadai. Misalnya, ada macan, kok ujug-ujug ana yang meruhi (melihat) di sekitar kampung. Kadang wonten merak, kidang, sing biasane ngedohi menungsa (menjauhi) manusia kok niki nyedhak, niku rak aeng. Niku mesti ada apa-apa. Nah niku menurut mbah-mbah riyin ada yang mau lewat (erupsi) …. Perilaku hewan yang lain, tetapi ini sudah lama sekali mboten wonten, criyose mbah-mbah dulu kalau mau erupsi itu akan sering terdengar asu mbaung … ajag dan asu kembang, niku jane asu kampung biasa, nanging njuk jadi liar. Tetapi pada beberapa erupsi besar sing kepengker mboten wonten. (pak Waji).”

“tanda sanese itu kalo pagi-pagi itu dusun sepi, mboten wonten suara manuk ngoceh (burung berkicau), senajan terlihat slamberan (beterbangan), nah niku juga saged dititeni dados tanda erupsi. Kathah manuk, ning dha meneng nika lho (pak Waji).”

Keseluruhan tanda-tanda itu menurut para informan memang dapat dijadikan patokan awal akan terjadinya erupsi, akan tetapi kapan terjadinya, berapa lama lagi, akan terjadi erupsi belum dapat ditentukan. Oleh karena para informan sepakat pentingnya mengkombinasikan dengan teknologi untuk melakukan mitigasi demi minimalisir korban.

“merapi itu kan sudah ditanami macam-macam alat pak, mulai dari kamera yang bisa melihat visual bagian mana yang mengalami penggelembungan. Bahkan itu naiknya berapa cm per hari itu sudah bisa diamati. Lalu ada juga seismograph, untuk mengukur kegempaan…yang tadi kula aturke…artinya ketika ada perubahan drastis, tim pemantau itu bisa mengetahui kira-kira arah letusan dan volumenya… ini yang menjadi penentu kapan kita harus mengungsi atau tidak (pak Musdi)”

“sebenarnya kalau dari ngelmu titen, kapan merapi badhe erupsi itu bisa ditingali ada tidaknya titik api diam. Kalau tidak terlihat titik api diam itu artinya masih lama’ (pak Waji)”

Hal yang paling menarik adalah pandangan masyarakat yang berpandangan bahwa gunung Merapi itu bukanlah sekedar gunung api yang aktif. Menurut keterangan informan, gunung merapi itu terdiri dua dunia, yang kasat mata dan yang tidak kasat mata.

“yang nyata itu nggih seperti kita ini, manusia yang membangun hidup di sekitar merapi, lha yang tidak kasat mata itu ya ada di lereng merapi. Oleh karena itu kita harus menjaga keseimbangan dua dunia itu. Itulah mengapa warga sini pada waktu tertentu itu mengadakan ritual untuk keselamatan warga. Ada dua ritual, yang besar itu suran. Malam satu suro, itu ngasih sesaji di beberapa sumber mata air, doanya semoga diberikan keselamatan dan kemakmuran. Satu lagi di bulan sapar, itu merti desa, itu sama kasih sesaji juga di empat pojok desa. Ada pelataran kecil sesajinya ditaruh di situ. Doanya sama, mohon keselamatan. …. Masyarakat yang di ‘sana’ yang goib, ada sesepuhnya juga, namanya mbah Petruk, yang ngasih tahu lewat mimpi warga sini untuk segera ‘menyingkir sebentar karena ada yang mau lewat’… Nah kejadian tahun 1994 itu di sini banyak korban itu karena pesan tersebut belum sempat disampaikan, dan juga pada saat itu warga sedang bersiap membuat acara perkawinan. Itulah yang terjadi. Yang bisa berkomunikasi itu dulu mbah Arjo, sudah meninggal beliau, sekarang tidak tahu lagi siapa yang bisa (pak Waji).”

Tujuan, dasar mitigasi bencana berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, adalah untuk mengurangi resiko jatuhnya korban dan kerugian yang disebabkan oleh bencana. Hal itu dapat dilakukan dengan pembangunan upaya penyadaran tentang risiko bencana, pembangunan jaringan penanganan bencana, hingga pembangunan infrastruktur untuk penyelamatan warga. Di dalam kerangka ini, ngelmu titen dapat digunakan sebagai bagian dari proses penyadaran akan risiko bencana.  Pembacaan dan pengenalan awal atas perubahan tanda-tanda alam di gunung Merapi dapat dijadikan patokan awal akan terjadinya erupsi serta dijadikan dasar untuk mobilisasi warga jika diperlukan. Keyakinan bersama atas sistem pengetahuan lokal ini akan memudahkan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah mitigasi jika dilakukan dengan ‘bahasa’ dan pemahaman masyarakat Turgo, meskipun secara teknis gejala, intensitas, dan cakupan bencana sebenarnya sudah dapat dipetakan oleh perangkat teknologi yang sudah tertanam di gunung Merapi. Ngelmu titen dalam hal ini menjadi modal sosial penting bagi masyarakat lokal untuk membentuk sistem mitigasi integratif yang kuat dan mengakar.