Makam Syekh Jumadil Kubra merupakan destinasi wisata religi yang terletak di Bukit Turgo. Bukit Turgo merupakan bukit yang berada pada Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem atau di sebelah barat kawasan wisata Kaliurang, kawasan lereng selatan Gunung Merapi wilayah Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta. Syekh Jumadil Kubro dipercaya sebagai nenek moyang para wali di Indonesia sekaligus seorang ulama besar dari Samarkand, Uzbekistan. Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Konon beliau merupakan keturunan ke 10 dari Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Makam tersebut berbentuk seperti sebuah tugu. Bangunannya terbuat dari keramik berwarna hitam di bagian bawah dan bagian atasnya berwarna putih dengan ukuran sekitar 2,5 X 1,5 meter. Hingga saat ini makam tersebut masih sering dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah.
Sejarah
Syekh Jumadil Kubro dilahirkan pada tahun 1349 M di sebuah daerah di kota Samarkand, dekat kota Bukhoro yang merupakan wilayah negara Azarbaijan (negara bekas kekuasaan Uni Soviet). Syekh Jumadil Kubro di asuh oleh ayahandanya sendiri yakni Sayyid Zainul Khusen. Setelah dewasa belau mengembara ke Hadramaut, Makkah dan Madinah untuk belajar dan mendalami ilmu agama Islam dari beberapa ulama terkenal di zamannya. Pada tahun 1399 M Syekh Jumadil Kubro melakukan perjalanan laut menuju ke Pulau Jawa. Namun sebelum sampai ke Pulau Jawa beliau singgah ke Champa untuk bersilaturahmi menemui anak serta cucunya. Setelah selesai beliau melanjutkan perjalanannya ke Pulau Jawa untuk berdagang dan berdakwah disana. Menurut Nasiruddin (2004: 9) lokasi dakwah yang dipilih Syekh Jumadil Kubro adalah lingkungan kerajaan Majapahit. Syekh Jumadil Kubro datang abad ke-14 atau tepatnya pada tahun 1399 M. Kegiatan dakwah beliau banyak dilakukan di lingkungan kerajaan karena barang-barang dagangan beliau lebih banyak diminati dan dibutuhkan oleh keluarga kerajaan atau kaum bangsawan yakni berupa emas, intan, jamud, dan lain sebagainya.
Syekh Jumadil Kubro wafat di usia 116 tahun pada tahun 1465 M dalam peperangan. Syekh Jumadil Kubro memiliki banyak tempat yang diyakini sebagai makamnya, berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi yang menuturkan Syekh Jumadil Kubro pernah melakukan tapa di bukit Bergota di Semarang. Maka penduduk setempat meyakini bahwa sebuah makam tua yang terletak di antara tambak dan daerah Terbanyak adalah makam Syekh Jumadil Kubro. Kisah Syekh Jumadil Kubro di Gresik dan Mantingan tidak meninggalkan jejak makam maupun petilasan dari tokoh tersebut. Makam Syekh Jumadil Kubro lainnya terdapat di kompleks makam Tralaya di Kabupaten Mojokerto. Di lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Turgo terdapat makam keramat yang diyakini sebagai makam Syekh Jumadil Kubro.
Syekh Jumadil Kubro dipercaya menyebarkan agama Islam di Majapahit. Strategi dakwah yang dilakukan Syekh Jumadil Kubro begitu canggih, hingga mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Buddha. Beliau menyebarkan agama Islam di lingkungan Ibu Kota Majapahit begitu arif dan bijaksana, dengan menggunakan tata bahasa yang sesuai dengan bahasa-bahasa yang digunakan masyarakat lokal untuk mengenalkan Islam. Beliau mengubah bahasa ataupun istilah dalam Islam menjadi bahasa yang sudah di kenal oleh masyarakat setempat, seperti istilah sholat diganti dengan sembahyang. Begitu pula dengan isltilah tempat pemujaan, orang Jawa menamakan tempat pemujaan kepada dewa disebut sanggar, para ulama menggantinya menjadi langgar.
Seiring perjalanan waktu, dakwah Syekh Jumadil Kubro sampai pada Gunung Merapi. Beliau membacakan ayat 12 dari surat Al Hasyr di puncak Bukit Turgo. Syekh Jumadil Kubro pun tinggal di puncak kubro, beliau bermunajat, mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, pagi sampai malam. Beliau juga turun ke rumah warga untuk memberikan ajaran agama Islam kepada penduduk desa. Sampai pada suatu ketika Samsudin dan Ali yang merupakan murid Syekh Jumadil Kubro datang ke puncak kubro untuk menemui Syekh Jumadil Kubro, tetapi beliau tidak ada di gubuk tempat tinggalnya. Samsudin dan Ali pun menunggu kedatangan beliau tetapi sampai beberapa hari belum datang, sehingga Samsudin dan Ali berpendapat beliau telah tiada ataupun pergi, tetapi banyak orang yang berpendapat bahwa beliau telah tiada dengan menghilang tanpa jasad atau disebut Moksa, sehingga puncak Bukit Turgo sendiri dibuat sebagai makam dari Syekh Jumadil Kubro. Cerita lain menjelaskan bahwa Syekh Jumadil Kubro saat waktu Dzuhur jam 12 siang melakukan sholat dengan para pengikutnya, pada saat melakukan sholat, Syekh Jumadil Kubro tiba-tiba menghilang. Terkait dengan cerita yang berkembang di masyarakat itu, keberadaan makam di puncak Bukit Turgo ini di perdebatkan, apakah benar-benar makam atau petilasan. Petilasan merupakan tempat yang pernah ditempati atau disinggahi orang-orang penting atau suci di masa lampau dalam waktu yang lama. Istilah ‘petilasan’ berasal dari bahasa Jawa yang artinya ‘bekas’. Perdebatan ini tidak mempengaruhi kedatangan orang-orang untuk berziarah di makam Syekh Jumadil Kubro, sebab hingga saat ini masih banyak orang yang datang ke makam tersebut.
Kajian
Makam Syekh Jumadil Kubro memiliki potensi yang sangat besar untuk di kembangkan, dalam hal sejarah yang sangat penting yaitu sangat berkaitan dalam penyebaran agama Islam, selain itu makam ini memiliki spot alam yang bagus sehingga beberapa peziarah berkunjung untuk bisa menikmati keindahan alam. Hal utama yang membuat makam ini potensial adalah peziarah yang masih berdatangan dengan jumlah yang banyak membuat manfaat dari peziarah bisa disalurkan ke berbagai aspek, seperti halnya tempat terkenal yang dikembangkan sehingga bisa bermanfaat untuk wilayah desa maupun kabupaten.

Hasil dari banyaknya peziarah yang datang membuat daerah sekitar makam ikut berpengaruh. Salah satu dampaknya adalah dibuatnya desa wisata, selain dari makam wilayah tersebut memanfaatkan objek alam yang indah sebagai nilai jual. Beberapa hal yang ditawarkan Bukit Turgo sebagai desa wisata diantaranya adalah pertunjukan Jathilan, seni Laras Madyo, kirab sesaji, wisata alam, maupun wisata bekas bencana alam. Bukit Turgo sebagai desa wisata sendiri tergolong sangat baik akan kegiatan yang ada, kegiatan ziarah sendiri menjadi kegiatan yang paling konsisten mendapatkan pengunjung untuk berziarah.
Ramainya pengunjung di Makam Jumadil Qubro membuat warga sekitar berinisiatif menciptakan berbagai kegiatan maupun kebudayaan yang dibuat untuk menarik semakin banyak wisatawan datang ke makam Syekh Jumadil Kubro di Bukit Turgo. Kegiatan tersebut berupa, pertunjukan jathilan, seni Laras Madyo, serta kirab sesaji untuk melakukan persembahan sesaji dan mengarak makanan dari mata air ke mata air di desa dan berakhir di makam Kyai Turgo pada tanggal satu muharam.
Adapun kesenian tradisional jathilan atau seni kuda lumping merupakan kesenian tradisional yang berupa tarian dengan menggunakan peraga kuda kepang dengan diiringi musik gamelan dan lagu-lagu daerah. Setiap pementasan terdiri dari beberapa babak yang masing-masing memperagakan kisah perang saudara. Seperti pementasan seni kuda lumping pada umumnya, para penari akan dimasuki oleh roh halus yang membuat tarian mereka dikendalikan oleh roh halus.
Kesenian tradisional lain yang berkembang di Bukit Turgo adalah Laras Madyo, berupa nyanyian tembang Jawa. Pada awalnya kesenian ini merupakan kesenian Islam dari Kasunanan Surakarta bagi dakwah ajaran agama Islam. Kesenian tersebut menampilkan lagu-lagu bernuansa Islami yang dikemas dalam bentuk tembang jawa seperti Gambuh, Kinanthi, dan Dandang Gulo yang diiringi alat musik rebana. Kesenian ini dilakukan secara berkelompok dimana setiap orang akan bernyanyi dan memainkan alat musik secara bersamaan. Kesenian tradisional yang mirip dengan Laras Madyo adalah Sloko. Perbedaan kedua jenis seni tradisional ada pada agama yang mendasari. Sloko diciptakan berdasarkan agama Nasrani.
Pada setiap tanggal 1 Suro, masyarakat Dusun Turgo melakukan upacara berupa kirab sesaji yang berupa wulu wetu atau hasil panen sawah, kebun, dengan arah dari mata air ke mata air dan berakhir di sekitar petilasan Syekh Jumadil kubro.
Selain budaya tradisional yang dilakukan oleh masyarakat desa untuk menarik minat wisatawan, Bukit Turgo memiliki alam yang keindahannya dapat diandalkan terutama yang berkaitan dengan Gunung Merapi. Hutan yang terletak di lereng Merapi selatan yang bisa dinikmati keindahan flora dan faunanya oleh para wisatawan. Hal lain yang dikemas oleh masyarakat untuk menarik wisatawan adalah wisata edukasi bertani terkait dengan produksi teh dan kopi. Bukit Turgo juga menyisakan sejarah memilukan terkait dengan bencana alam. Ada puing-puing rumah warga yang terkena awan panas akibat letusan Gunung Merapi tahun 1994. Puing-puing itu yang memiliki nilai sejarah manusia dan bencana alam.
