Maqom Syekh Jumadil Kubro

August 15, 2025

DAPOBUD-OPK: Warisan Budaya Benda,

Seiring perjalanan waktu, dakwah Syekh Jumadil  Kubro sampai pada Gunung Merapi. Beliau membacakan ayat 12 dari surat Al Hasyr di puncak Bukit Turgo. Syekh Jumadil Kubro pun tinggal di puncak kubro, beliau bermunajat, mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, pagi sampai malam. Beliau juga turun ke rumah warga untuk memberikan ajaran agama Islam kepada penduduk desa.

Sampai pada suatu ketika Samsudin dan Ali yang merupakan murid Syekh Jumadil Kubro datang ke puncak kubro untuk menemui Syekh Jumadil Kubro, tetapi beliau tidak ada di gubuk tempat tinggalnya. Samsudin dan Ali pun menunggu kedatangan beliau tetapi sampai beberapa hari belum datang, sehingga Samsudin dan Ali berpendapat beliau telah tiada ataupun pergi, tetapi banyak orang yang berpendapat bahwa beliau telah tiada dengan menghilang tanpa jasad atau disebut Moksa, sehingga puncak Bukit Turgo sendiri dibuat sebagai maqom dari  Syekh Jumadil Kubro.

Cerita lain menjelaskan bahwa Syekh Jumadil Kubro saat waktu Dzuhur jam 12 siang melakukan sholat dengan para pengikutnya, pada saat melakukan sholat, Syekh Jumadil Kubro tiba-tiba menghilang. Terkait dengan cerita yang berkembang di masyarakat itu, keberadaan maqom di puncak Bukit Turgo ini di perdebatkan, apakah benar-benar maqom atau petilasan.

Petilasan merupakan tempat yang pernah ditempati atau disinggahi orang-orang penting atau suci di masa lampau dalam waktu yang lama. Istilah ‘petilasan’ berasal dari bahasa Jawa yang artinya ‘bekas’.

Maqom (petilasan) Syekh Jumadil Kubro menjadi daya tarik bagi sebagian kaum muslim yang memiliki tradisi ziarah religi. Sebagian dari mereka ada yang mengeramatkan tempat tersebut sehingga dibangun menyerupai makam.